Tidak seperti beberapa penyebab infertilitas pada wanita yang bisa terdeteksi dengan mudah, namun Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah termasuk pada salah satu penyebab kemandulan yang bahkan sering tidak terdiagnosis.
Masalah kesuburan wanita akibat PCOS atau Sindrom Ovarium Polikistik adalah salah satu yang terkadang sulit dikenali, namun termasuk penyebab mayoritas kasus kemandulan yang terjadi pada banyak perempuan dalam usia subur.
Apa Itu PCOS?
PCOS merupakan singkatan dari Polycystic Ovary Syndrome, yang membuat hormon tidak seimbang sehingga pelepasan sel telur terhambat, haid tidak teratur dan tentunya infertilitas.
Sebagian besar kasus anovulasi (gagal ovulasi) penyebabnya adalah PCOS yang umumnya bersifat turun temurun. Penyakit ini tidak sepopuler HIV/AIDS bahkan di kalangan medis sekalipun. Bagi Anda wanita awam, mungkin baru kali ini mendengar istilah tersebut.
Berbagai studi menunjukkan bahwa Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS) ternyata adalah penyebab nomor satu kemandulan wanita di dunia yang ditandai oleh gangguan atau gagal ovulasi oleh ovarium.
Berdasarkan penelitian, sekitar 5-10% wanita dalam usia subur terkena sindrom ini. Di Indonesia, perkiraan jumlah penderitanya hingga 8 juta wanita. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, hanya saja dikatakan bahwa kelainan endokrin berhubungan dengan terjadinya hiperandrogenemia, lalu menyebabkan anovulasi kronik atau gagal ovulasi.
Baca juga: Cara Menghitung Masa Subur Sistem Kalender
Bagaimana Dengan Gejala PCOS?
Gejala yang timbul cenderung tak dikenali atau bahkan diabaikan oleh sebagian besar wanita, padahal angka kejadian ditemukan cukup banyak.
Variasi gejala PCOS yang mengkhawatirkan adalah anovulasi kronik dan infertilitas, yang disertai dengan gangguan haid, amenorea, oligomenorea, perdarahan uterus disfungsional dan juga hirsutisme.
Lebih mengerikan lagi, PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) tersebut tidak hanya mengancam kesehatan reproduksi tetapi juga sistem tubuh yang lain. Beberapa penyakit pun dapat muncul seperti penyakit jantung dan diabetes melitius.
Sindrom Ovarium Polikistik bisa ditandai dengan adanya hiperandrogenemia, yaitu ketidakseimbangan hormon androgen. Penderitanya cenderung memiliki kadar androgen atau hormon kelakian yang tinggi dari wanita normal. Hal ini juga ada gejalanya berupa penampilan fisik wanita yang menyerupai pria, tumbuh jenggot dan rambut dada.
Kelainan hormon inilah yang menyebabkan penderita Polycystic Ovary Syndrome mengalami keguguran berulang atau tak mampu hamil. Dalam penanganan dan pengobatannya, masalah kesuburan wanita akibat PCOS bisa dikendalikan apabila terdeteksi dini.
Namun, yang sangat kita sayangkan adalah banyaknya wanita yang tidak mengenal dan mengetahui gejala-gejala PCOS. Kalaupun mereka tahu biasanya tidak terlalu memperdulikan karena gejala tersebut mereka anggap lumrah.
Baca juga: Makanan dan Vitamin untuk Kesuburan Pria juga Wanita
Pengobatan pada sindrom ini ditekankan pada beberapa gejala yang biasanya timbul pada penderitanya, yaitu terapi kemandulan atau gangguan proses reproduksi serta terapi yang bersifat jangka panjang fokus pada kelainan metaboliknya.
Tujuan utama terapi tersebut adalah mengurangi kadar androgen dalam darah, perbaikan gaya hidup guna menurunkan kegemukan. Melindungi endomentrium wanita dari unopposed estrogen, menghindari hiperinsulinemia dan kardiovaskular, serta induksi ovulasi agar bisa hamil.
Induksi ovulasi adalah cara lama yang paling sering diterapkan dalam menangani sindrom ovarium polikistik. Cara bedah juga bisa digunakan untuk memicu ovulasi dengan angka keberhasilan lebih tinggi.
Tentunya, terapi harus tetap berjalan dalam pengawasan dokter spesialias kandungan. Sedangkan untuk pengangganan hiperandrogenisme, penyuntikan anti androgen dilakukan.
Sementara itu, resistensi insulin diterapi dengan metformin yang dikenal efektif untuk mengatasi gangguan metabolik dan memperlancar siklus menstruasi dan juga ovulasi.
Terakhir adalah merubah gaya hidup untuk mengendalikan lemak tubuh dan mengatasi obesitas yang dapat mempengaruhi ovulasi. Produksi dan metabolisme hormon dipengaruhi oleh lemak tubuh. Karena itu, kadar lemak yang berlebihan atau sangat kurang akan mempengaruhi kesuburan.
Referensi: Buku Cara Cepat Hamil dr. Rosdiana Ramli, SpOG.

