Sejarah AI – Kecerdasan Buatan yang Mengubah Dunia

Sejarah Panjang AI: Kecerdasan Buatan yang Mengubah Dunia

Sejarah AI (Artificial Intelligence) merupakan hasil perjalanan panjang manusia, dari imajinasi abad ke-18 hingga lahirnya ChatGPT dan generative AI modern, yang kini mengubah cara hidup manusia.

Dulu, mesin yang bisa berpikir, menalar, dan berbincang seperti manusia hanya ada di novel fantasi. Namun, sekarang, teknologi seperti ini sudah menjadi makanan kita sehari-hari.

Dari genggaman tangan, kita bisa mengakses jawaban pertanyaan, menulis teks, bahkan menghasilkan gambar. Itulah Artificial Intelligence (AI), kecerdasan buatan yang mengubah cara kita hidup saat ini.

AI tidak lahir tiba-tiba, namun ada sejarah di belakangnya. Sebelum jadi ChatGPT, konsep kecerdasan buatan muncul dari imajinasi penulis abad ke-18, eksperimen mesin catur awal, sampai ledakan teknologi deep learning di era digital. Untuk memahami bagaimana teknologi ini bisa hadir di era masa kini, mari kita menelusuri jejak sejarahnya.

Apa Itu AI (Artificial Intelligence)?

Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah kemampuan komputer atau mesin untuk meniru cara manusia berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.

Alasan mengapa AI diciptakan adalah untuk mengerjakan tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia, seperti menalar, belajar, dan menarik kesimpulan.

Dalam kehidupan sehari-hari, AI sudah banyak digunakan. Kamu dapat melihat contoh implementasinya dalam software pengenal wajah, algoritma rekomendasi belanja online, asisten digital, mesin pencari, hingga fitur keselamatan di mobil.

Selain penerapan praktis, penelitian AI juga terus berkembang. Tujuannya antara lain menciptakan mesin yang benar-benar bisa berpikir layaknya manusia (Artificial General Intelligence/AGI), membangun sistem pintar yang bisa dipakai secara luas, serta memahami lebih dalam bagaimana cara kerja pikiran manusia.

Sejarah Panjang AI Dari Awal Hingga Kini

Ide soal AI (Kecerdasan Buatan) ternyata sudah muncul sejak tahun 1700-an. Jadi, konsep ini sebenarnya bukan hal baru lagi. Mari menengok sejarah AI (Artificial Intelligence) dari awal sampai yang terkini.

1726 – Konsep Awal AI

Penggemar sastra pasti sudah pernah baca novel berjudul Gulliver’s Travels karya Jonathan Swift. Di dalamnya, Swift menulis soal alat mekanis yang digunakan oleh ahli untuk bikin ide, kalimat dan bahkan buku. Walau masih berupa fantasi, gambaran ini sering dianggap sebagai salah satu bayangan awal tentang konsep mesin yang bisa “berpikir” layaknya manusia.

1914 – Mesin Catur Otomatis

Di Paris, seorang insinyur asal Spanyol bernama Leonardo Torres y Quevedo memperkenalkan mesin catur otomatis bernama El Ajedrecista. Mesin ini dipamerkan dalam ajang Exposition Universelle dan mampu memainkan permainan catur sederhana.

El Ajedrecista bekerja dengan elektromagnet dan sepenuhnya otomatis. Begitu disiapkan, mesin ini bisa melanjutkan permainan tanpa campur tangan manusia.

Jika lawan membuat langkah yang salah, mesin akan memberi tanda adanya kesalahan. Bahkan, jika mesin berada di posisi menang, ia bisa melakukan skakmat dengan rapi.

Bisa dibilang, inilah salah satu contoh nyata pertama bagaimana mesin bisa mengikuti aturan logis dan mengambil keputusan sendiri.

1921 – Lahirnya Robot

Di London, sebuah drama panggung berjudul Rossum’s Universal Robots (R.U.R) karya Karel Čapek untuk pertama kalinya memperkenalkan kata “robot” ke dalam bahasa Inggris. Kata ini berasal dari bahasa Ceko, robota, yang berarti kerja paksa atau kerja wajib yang dulu dilakukan para petani di sistem feodal.

Pentas ini sukses besar dan membuat istilah “robot” langsung dikenal luas di dunia internasional. Menariknya, robot dalam drama Čapek digambarkan bukan sebagai mesin logam, melainkan makhluk organik buatan.

Namun seiring waktu, kata “robot” justru melekat pada gambaran mesin mekanis berbentuk manusia yang dirancang untuk mengerjakan tugas-tugas monoton atau pekerjaan kasar.

1939 – Komputer Pertama

Profesor fisika dan matematika John Vincent Atanasoff bersama mahasiswanya, Clifford Berry, membangun Atanasoff-Berry Computer (ABC) dengan dana hibah sebesar 650 dolar AS. Mesin ini dianggap sebagai salah satu komputer paling awal sehingga jadi tonggak penting dalam sejarah ilmu komputer di Amerika.

Walau ABC tidak pernah digunakan secara luas, mesin ini memperkenalkan banyak konsep dasar yang menjadi fondasi komputer modern. Berbeda dengan mesin sebelumnya yang memakai sistem desimal, ABC sudah menggunakan sistem biner (1 dan 0) untuk merepresentasikan data.

1943 – Artificial Neural Networks

Warren S. McCulloch dan Walter Pitts menerbitkan sebuah makalah berjudul “A Logical Calculus of the Ideas Immanent in Nervous Activity” di Bulletin of Mathematical Biophysics. Tulisan ini menjadi salah satu karya penting dalam sejarah neurosains sekaligus cikal bakal Artificial Intelligence.

Dalam makalah itu, mereka memperkenalkan gagasan bahwa otak manusia bisa dipahami sebagai sebuah sistem komputasi. Mereka juga mengenalkan konsep artificial neural networks yang kelak menjadi fondasi teknologi AI modern.

1950 – Turing Test (Dasar Pemikiran AI)

Ahli matematika asal Inggris, Alan Turing, menerbitkan makalah berjudul “Computing Machinery and Intelligence” di jurnal Mind. Dalam tulisan ini, ia mengajukan pertanyaan yang jadi dasar pemikiran AI: “Bisakah mesin berpikir?”

Alih-alih menjawab langsung, Turing mengusulkan sebuah eksperimen yang disebut imitation game, yang kini dikenal sebagai Turing Test. Tes ini mengukur kecerdasan mesin dengan cara sederhana: jika sebuah mesin bisa berperilaku atau bercakap-cakap sedemikian rupa hingga tak bisa dibedakan dari manusia, maka mesin itu dapat dianggap cerdas.

1955 – Munculnya Istilah Artificial Intelligence (AI)

Istilah artificial intelligence pertama kali diperkenalkan dalam sebuah proposal berjudul “A Proposal for the Dartmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence.” Proposal ini diajukan oleh John McCarthy (Dartmouth College), Marvin Minsky (Harvard University), Nathaniel Rochester (IBM), dan Claude Shannon (Bell Telephone Laboratories).

Proposal tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk lokakarya di musim panas tahun berikutnya, Juli–Agustus 1956, di Dartmouth College. Peristiwa ini dianggap sebagai titik lahir resmi bidang AI.

1957 – Perceptron

Seorang psikolog sekaligus ilmuwan komputer, Frank Rosenblatt, memperkenalkan Perceptron. Perceptron adalah sebuah model awal artificial neural network yang mampu mengenali pola sederhana. Alat ini bisa belajar dari data dengan cara menyesuaikan bobot input hingga bisa membedakan pola tertentu.

1958 – Lisp, Bahasa Pemrograman AI

John McCarthy, sosok yang juga mencetuskan istilah artificial intelligence, menciptakan bahasa pemrograman baru bernama Lisp (LISt Processing). Bahasa ini lahir sebagai upaya memformalkan algoritma dan logika matematika, dengan fokus pada kemampuan mengolah informasi.

Lisp segera menjadi bahasa pemrograman favorit di kalangan peneliti AI. Fleksibilitasnya membuat para ilmuwan bisa mengembangkan berbagai sistem cerdas di masa awal, dari pemrosesan bahasa alami hingga program pemecah masalah.

1959 – Awal Mula Machine Learning

Tahun ini bisa dibilang salah satu periode paling berwarna dalam sejarah AI (Kecerdasan Buatan) , karena beberapa ide besar lahir hampir bersamaan.

Arthur Samuel, menciptakan program komputer untuk bermain dam (checkers). Uniknya, program ini tidak hanya mengikuti aturan yang ditanamkan, tapi bisa belajar dari pengalaman. Semakin sering bermain, semakin pintar ia mengambil langkah, bahkan sampai bisa melampaui kemampuan pembuatnya. Dari sinilah istilah machine learning lahir.

Di saat yang sama, Oliver Selfridge memperkenalkan model Pandemonium. Ia menyamakan sistem dengan “demon” (unit pemrosesan kecil) yang bekerja sama untuk mengenali pola. Para demon ini bersaing menemukan ciri-ciri dalam data, tanpa perlu diprogram secara langsung. Gagasan ini menjadi salah satu fondasi awal bagi teknologi pengenalan pola dan machine vision.

John McCarthy juga menambah batu pijakan penting lewat konsep Advice Taker. Dalam makalah “Programs with Common Sense,” ia menyampaikan konsep dari sebuah program yang bisa memahami instruksi, menalar dengan logika formal, dan belajar dari pengalaman seolah-olah memiliki akal sehat. Ide ini menjadi dasar penelitian awal dalam representasi pengetahuan dan penalaran otomatis (automated reasoning).

1965 – ELIZA, Chatbot Pertama di Dunia

Joseph Weizenbaum menciptakan ELIZA, program komputer yang mampu berinteraksi lewat teks dengan manusia. ELIZA, chatbot pertama di dunia ini dirancang untuk meniru gaya percakapan seorang terapis dengan teknik sederhana: memparafrasekan kalimat pengguna dan melemparkan kembali dalam bentuk pertanyaan.

Meskipun mekanismenya relatif dangkal, banyak orang yang menggunakan ELIZA merasa sedang berbicara dengan sosok yang pengertian. Weizenbaum sendiri kaget melihat betapa mudahnya manusia membangun ikatan emosional dengan sebuah mesin.

1972 – MYCIN, Dokter Virtual Pertama

Di Stanford University, para peneliti mengembangkan MYCIN, salah satu sistem pakar awal yang dirancang untuk membantu dokter mendiagnosis infeksi bakteri dan memberikan rekomendasi antibiotik. Sistem ini bekerja dengan pendekatan rule-based system yang meniru cara pakar medis mengambil keputusan.

MYCIN bisa mengajukan pertanyaan, menganalisis jawaban, lalu menyarankan obat yang tepat. Program ini bahkan menunjukkan akurasi yang cukup tinggi dibanding dokter umum. Namun, karena alasan etika dan hukum, MYCIN tidak pernah dipakai langsung dalam praktik medis.

1982 – Proyek Komputer Generasi Kelima

Pemerintah Jepang meluncurkan Fifth Generation Computer Systems Project (FGCS) dengan tujuan membangun komputer yang mampu melakukan penalaran logis dan pemecahan masalah tingkat tinggi.

Fokus utamanya adalah pengembangan teknologi seperti natural language processing dan sistem pakar yang lebih canggih. FGCS dirancang untuk mendorong riset AI melompat jauh ke depan. Namun, proyek ini akhirnya dihentikan pada 1992.

1995 – A.L.I.C.E.

Richard Wallace menciptakan A.L.I.C.E. (Artificial Linguistic Internet Computer Entity). A.L.I.C.E. memanfaatkan kehadiran World Wide Web yang baru berkembang untuk mengakses dan memproses data dalam jumlah besar.

Alih-alih hanya mengandalkan skrip sederhana, A.L.I.C.E. menggunakan teknik pencocokan pola bernama AIML (Artificial Intelligence Markup Language). Dengan ini, chatbot bisa menghasilkan percakapan yang lebih kompleks, fleksibel, dan terasa alami dari pendahulunya.

2000-an – Era Machine Learning dan Awal Kehadiran AI di Kehidupan

Dekade ini ditandai oleh pergeseran besar: dari rule-based systems menuju machine learning. Komputer bisa belajar dari pola dalam data yang terus bertambah, terutama karena internet mulai menghasilkan informasi dalam jumlah raksasa.

Beberapa tonggak penting di era ini antara lain:

  • 2002: iRobot meluncurkan Roomba, vacuum cleaner otomatis pertama yang menggunakan kecerdasan sederhana untuk menavigasi ruangan.
  • 2006: Geoffrey Hinton dan timnya mempopulerkan kembali deep learning.
  • 2009: Google mulai mengembangkan self-driving car, menandai era baru kendaraan otonom.

Setelah melalui sejarah panjang, di periode ini juga AI (Kecerdasan Buatan) mulai dipakai dalam produk sehari-hari: rekomendasi belanja online, filter spam email, sistem pencarian internet, hingga pengenalan suara dasar.

2010-an – Ledakan Deep Learning dan Kejayaan AI

Kalau 2000-an adalah masa AI mulai masuk rumah kita, 2010-an adalah era ketika AI menunjukkan kebolehannya. Beberapa tonggak bersejarah di dekade ini:

  • 2011: IBM Watson mengalahkan juara manusia dalam kuis Jeopardy!, membuktikan AI bisa memahami natural language dengan tingkat kompleksitas tinggi.
  • 2011–2014: Asisten digital pintar seperti Siri, Google Now, dan Alexa lahir, membawa AI percakapan ke ponsel dan rumah jutaan orang.
  • 2012: Tim Geoffrey Hinton memenangi kompetisi ImageNet dengan akurasi pengenalan gambar yang jauh melampaui metode sebelumnya.
  • 2014: Generative Adversarial Networks (GANs) diperkenalkan oleh Ian Goodfellow, membuka jalan bagi AI yang bisa mencipta gambar, musik, hingga wajah manusia palsu yang terlihat nyata.
  • 2016: Google DeepMind’s AlphaGo mengalahkan Lee Sedol, juara dunia Go. Momen ini dianggap tonggak besar karena Go jauh lebih kompleks daripada catur, dan kemenangan AI menunjukkan betapa cepatnya kecerdasannya berkembang.

Di era ini, AI mulai benar-benar terasa di hampir semua bidang: kesehatan, transportasi, hiburan, sampai keamanan.

2020-an – Tren AI Generatif

Dekade ini ditandai dengan kebangkitan generative AI, yaitu AI yang bisa menciptakan teks, gambar, musik, bahkan video. Perkembangan ini dipicu oleh kemajuan besar dalam large language models dan kemampuan komputasi yang semakin cepat.

  • 2020: OpenAI merilis GPT-3, model bahasa dengan 175 miliar parameter yang mampu menghasilkan teks mirip manusia dengan kecepatan dan fleksibilitas luar biasa.
  • 2022: ChatGPT diluncurkan untuk publik, dan dalam hitungan minggu langsung meledak. Jutaan orang mulai menggunakannya untuk menulis, belajar, bekerja, bahkan sekadar ngobrol. ChatGPT menjadi fenomena global dan memicu ledakan minat terhadap AI generatif.
  • 2022 – sekarang: Teknologi serupa ikut booming, dari DALL·E dan MidJourney (AI pembuat gambar) hingga Stable Diffusion. AI kini bisa diakses siapa pun lewat browser.

Itulah sejarah AI (Kecerdasan Buatan) yang lahir dari keinginan manusia untuk menciptakan sesuatu yang mampu berpikir, belajar, dan menyaingi penciptanya.

AI hari ini bekerja layaknya partner yang ikut menentukan arah hidup, pekerjaan, bahkan budaya kita. Meski harus dikaji ulang regulasi dan pengaturannya, AI telah menjadi entitas baru yang ikut menulis arah peradaban manusia.

Dari satu dekade ke dekade lain, AI (Artificial Intelligence) selalu hadir sebagai tanda tanya besar: sampai sejauh mana kita rela berbagi ruang dengan kecerdasan buatan?

– Featured image by Andy Kelly.
– Referensi / Sumber Bacaan: