Sebelum mengenal ELIZA, chatbot pertama di dunia, Anda perlu memahami terlebih dahulu pengertian chatbot. Chatbot adalah program komputer yang dirancang untuk meniru percakapan manusia. Tujuannya adalah untuk membantu pengguna berinteraksi dengan sistem tanpa harus berhadapan langsung dengan manusia.
Kini, chatbot sudah hadir di mana-mana: dari layanan pelanggan, aplikasi belanja, hingga asisten virtual di ponsel Anda. Chatbot bekerja dengan cara menerima input teks dari pengguna, lalu memberikan respons yang sesuai. Respons itu bisa dihasilkan lewat aturan logika sederhana atau menggunakan AI (kecerdasan buatan) yang kompleks.
Semakin maju teknologinya, semakin alami pula percakapan yang bisa dilakukan chatbot. Namun, yang akan kita bahas di sini adalah chatbot yang sudah tersedia sejak tahun 60-an, yaitu ELIZA.
Apa itu ELIZA?
ELIZA adalah chatbot pertama di dunia yang dibuat untuk mensimulasikan percakapan manusia. Program ini dikembangkan pada tahun 1960-an oleh seorang profesor di MIT bernama Joseph Weizenbaum.
Nama ELIZA diambil dari karakter Eliza Doolittle dari drama Pygmalion karya George Bernard Shaw. Pemilihan nama ini menggambarkan kemampuan program tersebut untuk “belajar” berbicara dengan manusia meskipun hanya dalam batasan tertentu.
ELIZA menjadi pelopor chatbot karena ia mampu meniru gaya berbicara seorang terapis dengan teknik sederhana. Program ini dikenal dengan satu skrip paling terkenalnya, yaitu DOCTOR. Dalam mode ini, ELIZA berperan sebagai psikoterapis yang mengajukan pertanyaan berdasarkan kata-kata pengguna.
Contohnya, jika seseorang mengetik, “Saya merasa sedih,” ELIZA bisa menjawab, “Mengapa Anda merasa sedih?”. Dengan cara ini, percakapan terasa alami meskipun sebenarnya ELIZA tidak memahami makna kalimat tersebut.
Siapa yang Menemukan ELIZA?
ELIZA ditemukan oleh Joseph Weizenbaum, ilmuwan komputer dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), pada tahun 1966. Ia menciptakan program ini sebagai eksperimen untuk menunjukkan bagaimana mesin bisa meniru komunikasi manusia tanpa memahami isi percakapan.

Joseph Weizenbaum Penemu Chatbot ELIZA
Weizenbaum sendiri sebenarnya tidak bermaksud menjadikan ELIZA sebagai asisten virtual. Ia justru ingin membuktikan betapa mudahnya manusia mengaitkan makna dan emosi pada respons mesin yang sebenarnya dangkal. Namun, banyak pengguna yang merasa ELIZA benar-benar memahami mereka, bahkan beberapa orang menganggapnya sebagai “teman curhat” digital.
Hal ini mengejutkan Weizenbaum dan membuatnya menulis banyak kritik tentang hubungan manusia dengan teknologi. Ia menilai bahwa manusia sering kali terlalu cepat percaya pada kemampuan komputer tanpa memahami batasannya.
Baca juga: Sejarah AI: Kecerdasan Buatan yang Mengubah Dunia
Cara Kerja ELIZA
ELIZA tidak menggunakan kecerdasan buatan seperti yang ada sekarang. Program ini berjalan dengan metode yang disebut pattern matching dan substitution. Artinya, ELIZA mencari pola tertentu dalam teks pengguna, lalu menggantinya dengan respons yang sudah disiapkan.
Contohnya:
- Input pengguna: “Saya marah dengan teman saya.”
- Pola ELIZA: “Saya [emosi] dengan [orang].”
- Respons ELIZA: “Mengapa Anda [emosi] dengan [orang]?”
ELIZA tidak memahami arti dari kata-kata tersebut. Ia hanya memanipulasi teks berdasarkan pola. Sistemnya terdiri dari skrip aturan yang disebut DOCTOR, yang berisi daftar kata kunci dan pola pertanyaan. Jika tidak menemukan pola yang cocok, ELIZA menggunakan kalimat netral seperti, “Bisakah Anda menjelaskan lebih lanjut?” atau “Ceritakan lebih banyak tentang itu.”
Teknik sederhana ini membuat percakapan terasa alami meskipun sebenarnya sangat mekanis. Namun pada masanya, kemampuan seperti itu dianggap luar biasa dan membuka jalan bagi chatbot modern.
Fakta Unik soal Penemuan ELIZA
Sebelum ada chatbot modern seperti Siri, Alexa, atau ChatGPT muncul, ELIZA chatbot pertama di dunia ini sudah lebih dulu membuat orang kagum. Berikut beberapa fakta menarik tentang ELIZA yang jarang diketahui:
- ELIZA dibuat hanya dalam waktu beberapa minggu. Joseph Weizenbaum merancang ELIZA sebagai proyek eksperimen kecil di MIT. Ia tidak menyangka programnya akan terkenal dan menjadi tonggak sejarah kecerdasan buatan.
- ELIZA tidak memahami bahasa sama sekali. Meski tampak seperti “mengerti” percakapan, ELIZA sebenarnya hanya mengganti dan mengulang kata dari pengguna tanpa memahami konteks. Semua respons pengaturannya berdasarkan aturan teks, bukan pemahaman.
- Nama ELIZA berasal dari karakter sastra. Eliza Doolittle adalah karakter dalam Pygmalion yang belajar berbicara dengan gaya kalangan atas. Nama ini dipilih untuk menggambarkan proses “pembelajaran bahasa” yang tampak canggih padahal bersifat imitasi.
- Banyak orang menganggap ELIZA punya empati. Selama pengujian, banyak peserta yang merasa didengarkan oleh ELIZA dan membagikan cerita pribadi padanya. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia cenderung memproyeksikan emosi pada teknologi yang memberi respons seperti manusia.
- Weizenbaum menyesal menciptakan ELIZA. Setelah melihat betapa besar dampak emosional yang timbul dari ELIZA, Weizenbaum menjadi kritis terhadap penggunaan AI di bidang yang melibatkan emosi manusia, seperti terapi atau hubungan interpersonal. Ia menulis buku Computer Power and Human Reason untuk menegaskan batas antara manusia dan mesin.
- ELIZA menginspirasi banyak chatbot modern. Model dasar ELIZA digunakan sebagai fondasi pengembangan chatbot di dekade-dekade berikutnya. Sistem berbasis pola teks menjadi dasar bagi chatbot seperti ALICE, Cleverbot, hingga chatbot berbasis AI seperti DeepSeek, ChatGPT, dan lainnya.
Fenomena ELIZA Effect
Fenomena ELIZA Effect muncul dari kecenderungan manusia untuk memperlakukan mesin seolah-olah memiliki kesadaran atau pemahaman layaknya manusia. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Sherry Turkle, seorang profesor di MIT, yang meneliti hubungan manusia dengan teknologi.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana pengguna mudah terjebak dalam ilusi bahwa chatbot benar-benar memahami mereka, padahal mesin hanya menjalankan algoritma.
ELIZA menjadi contoh klasik dari efek ini. Meskipun programnya sederhana, banyak pengguna pada masa itu merasa ELIZA benar-benar mendengarkan dan memahami perasaan mereka. Padahal, seperti penjelasan Joseph Weizenbaum sendiri, ELIZA tidak memiliki kemampuan berpikir atau memahami konteks emosional. Ia hanya memproses kata dan pola kalimat berdasarkan aturan yang telah ditentukan.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya dorongan psikologis manusia untuk mencari makna dan empati dalam interaksi, bahkan ketika berhadapan dengan sistem non-manusia. Efek ini terus terlihat hingga kini, saat orang berbicara dengan asisten virtual seperti Siri atau ChatGPT, yang sering dianggap memiliki kepribadian.
Weizenbaum menganggap ELIZA Effect sebagai peringatan agar manusia tidak melebih-lebihkan kemampuan teknologi. Mesin bisa meniru komunikasi, tetapi tidak bisa menggantikan pemahaman dan empati manusia. Pandangan ini tetap relevan di era modern, terutama saat AI semakin masuk ke ranah personal seperti kesehatan mental dan hubungan sosial.
Baca juga: 10 Perbedaan AI dan Machine Learning (ML)
Dampak ELIZA Pada Perkembangan Chatbot & AI
ELIZA menandai awal mula interaksi manusia dengan mesin dalam bentuk percakapan. Sebelum ELIZA, komputer masih kaku dan hanya bisa menjalankan perintah matematis. Program ini mengubah pandangan itu dengan menunjukkan bahwa komputer bisa berinteraksi dalam bahasa alami.
Dari sinilah, banyak ilmuwan tertarik mengembangkan Natural Language Processing (NLP) — bidang yang mempelajari bagaimana komputer memahami dan memproses bahasa manusia. NLP kemudian menjadi inti dari teknologi chatbot modern.
Contohnya, pada tahun 1990-an muncul ALICE (Artificial Linguistic Internet Computer Entity), chatbot yang menggunakan teknik pattern matching seperti ELIZA tetapi dengan aturan yang jauh lebih kompleks. Lalu di era 2000-an, muncul chatbot berbasis pembelajaran mesin yang mulai memahami konteks percakapan secara dinamis.
ELIZA juga memicu diskusi etika tentang batas interaksi antara manusia dan mesin. Weizenbaum mengingatkan bahwa mesin tidak memiliki empati, dan penggunaan chatbot di bidang emosional harus dengan hati-hati. Pandangannya tetap relevan sampai sekarang, terutama ketika AI modern penggunaannya mulai di dunia terapi, pendidikan, dan layanan publik.
Dalam dunia teknologi, ELIZA dianggap sebagai simbol awal evolusi percakapan antara manusia dan komputer. Tanpa program sederhana itu, mungkin kita tidak akan memiliki chatbot canggih seperti sekarang.
Pada akhirnya, ELIZA, Chatbot pertama di dunia bukan hanya proyek ilmiah sederhana, melainkan titik awal sejarah baru yang mengubah cara manusia berinteraksi dengan mesin.
Featured Image by The decoder

