Kendaraan listrik semakin mudah ditemukan di jalan raya. Perkembangan teknologi dan meningkatnya pilihan kendaraan membuat motor ataupun mobil listrik mulai menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin menggunakan kendaraan dengan sumber energi berbeda dari kendaraan konvensional.
Namun, semakin populernya kendaraan listrik juga diikuti oleh berbagai anggapan dan informasi yang belum tentu benar. Mulai dari anggapan bahwa kendaraan listrik tidak aman saat hujan, baterainya mudah rusak, hingga klaim bahwa kendaraan listrik sama sekali tidak menghasilkan dampak terhadap lingkungan.
Memahami mitos dan fakta seputar kendaraan listrik menjadi penting agar calon pengguna tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi yang belum tentu tepat. Berikut beberapa anggapan yang sering muncul beserta penjelasannya.
Apa Itu Kendaraan Listrik?
Kendaraan listrik adalah kendaraan yang menggunakan energi listrik untuk menggerakkan motor listrik. Energi tersebut biasanya disimpan dalam baterai yang dapat diisi ulang menggunakan sumber listrik.
Berbeda dengan kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel, kendaraan listrik tidak menggunakan mesin pembakaran internal sebagai sumber tenaga utama. Sistem penggeraknya melibatkan baterai, motor listrik, sistem kontrol elektronik, serta berbagai komponen pendukung lainnya.
Teknologi kendaraan listrik sendiri terus berkembang. Selain kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV), terdapat pula kendaraan hybrid dan plug-in hybrid dengan karakteristik sistem penggerak yang berbeda.
Mitos dan Fakta Kendaraan Listrik
1. Kendaraan Listrik Tidak Aman Saat Hujan
Salah satu anggapan yang cukup sering muncul adalah kendaraan listrik tidak aman digunakan ketika hujan karena menggunakan tenaga listrik.
Faktanya, kendaraan listrik dirancang dengan sistem kelistrikan yang terlindungi sehingga dapat digunakan dalam kondisi hujan seperti kendaraan pada umumnya. Komponen kelistrikan utama dan baterai ditempatkan serta dilindungi sesuai standar keselamatan kendaraan.
Meski demikian, pengguna tetap harus memperhatikan kondisi jalan. Genangan air yang sangat tinggi dapat berbahaya bagi kendaraan apa pun, sehingga pengemudi sebaiknya menghindari menerobos banjir atau genangan yang tidak dapat dipastikan kedalamannya.
2. Baterai Kendaraan Listrik Cepat Rusak
Banyak orang menganggap baterai kendaraan listrik akan cepat rusak sehingga biaya kepemilikannya menjadi sangat mahal.
Faktanya, baterai kendaraan listrik dirancang untuk digunakan dalam jangka panjang dan dilengkapi sistem pengelolaan baterai untuk membantu menjaga kondisinya. Namun, seperti komponen lainnya, kapasitas baterai tetap dapat mengalami penurunan seiring usia dan siklus penggunaan.
Kecepatan penurunan kapasitas dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pola pengisian, kondisi temperatur, penggunaan kendaraan, dan karakteristik baterai. Karena itu, calon pembeli sebaiknya memperhatikan garansi baterai dan ketentuan perawatan dari produsen.
Baca juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik: Peluang Baru Industri Multifinance
3. Kendaraan Listrik Tidak Perlu Perawatan
Karena memiliki lebih sedikit komponen mekanis dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran, ada anggapan bahwa kendaraan listrik tidak membutuhkan perawatan.
Faktanya, kendaraan listrik tetap membutuhkan perawatan secara berkala.
Meskipun beberapa komponen pada mesin konvensional tidak terdapat pada kendaraan listrik, pemilik tetap perlu memperhatikan kondisi ban, rem, suspensi, sistem pendingin, baterai, perangkat elektronik, dan berbagai komponen lainnya.
Servis berkala tetap penting untuk memastikan kendaraan bekerja secara optimal dan masalah dapat diketahui lebih awal.
4. Kendaraan Listrik Sama Sekali Tidak Menghasilkan Emisi

Kendaraan listrik sering disebut sebagai kendaraan tanpa emisi. Pernyataan tersebut perlu dipahami dengan lebih tepat.
Faktanya, kendaraan listrik murni tidak menghasilkan emisi gas buang dari knalpot ketika digunakan. Namun, bukan berarti seluruh proses penggunaan dan produksi kendaraan sama sekali tidak memiliki dampak lingkungan.
Emisi dapat muncul dari proses produksi kendaraan dan baterai serta sumber energi listrik yang digunakan untuk mengisi baterai. Dengan demikian, kendaraan listrik dapat membantu mengurangi emisi langsung di jalan, tetapi dampak lingkungannya perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
5. Kendaraan Listrik Tidak Bisa untuk Perjalanan Jauh
Sebagian orang menganggap kendaraan listrik hanya cocok digunakan untuk perjalanan pendek di dalam kota.
Faktanya, kendaraan listrik dapat digunakan untuk perjalanan jauh, tetapi membutuhkan perencanaan yang lebih matang.
Pengguna perlu memperhatikan jarak tempuh kendaraan, kondisi baterai, gaya berkendara, serta lokasi fasilitas pengisian daya di sepanjang perjalanan.
Perencanaan rute menjadi semakin penting ketika melakukan perjalanan ke wilayah yang memiliki fasilitas pengisian lebih terbatas.
6. Mengisi Baterai Kendaraan Listrik Butuh Waktu Sangat Lama
Waktu pengisian baterai sering dianggap sebagai salah satu kelemahan utama kendaraan listrik.
Faktanya, lama pengisian bergantung pada kapasitas baterai, kondisi baterai, kemampuan kendaraan, serta jenis dan daya charger yang digunakan.
Pengisian menggunakan perangkat berdaya rendah memang dapat membutuhkan waktu lebih lama. Sementara itu, fasilitas pengisian cepat dapat mengisi baterai dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Karena itu, pengguna perlu memahami jenis pengisian yang kompatibel dengan kendaraannya dan menyesuaikan kebiasaan pengisian dengan aktivitas sehari-hari.
7. Kendaraan Listrik Tidak Memiliki Performa yang Bagus
Ada anggapan bahwa kendaraan listrik dibuat lebih mengutamakan efisiensi sehingga performanya tidak sebaik kendaraan konvensional.
Faktanya, motor listrik dapat memberikan respons tenaga yang cepat.
Motor listrik memiliki karakteristik torsi yang berbeda dengan mesin pembakaran internal. Tenaga dapat disalurkan secara responsif sehingga beberapa kendaraan listrik mampu memberikan akselerasi yang terasa cepat.
Performa setiap kendaraan tentu berbeda tergantung kapasitas motor, baterai, bobot kendaraan, dan sistem penggeraknya.
8. Kendaraan Listrik Tidak Memiliki Suara Sama Sekali
Kendaraan listrik dikenal memiliki suara yang lebih senyap dibandingkan kendaraan bermesin bensin atau diesel.
Faktanya, kendaraan listrik tetap menghasilkan suara, terutama ketika bergerak pada kecepatan tertentu. Suara tersebut dapat berasal dari ban yang bersentuhan dengan permukaan jalan, aliran udara, motor listrik, dan berbagai komponen lainnya.
Pada kecepatan rendah, suara kendaraan listrik dapat jauh lebih rendah sehingga beberapa kendaraan menggunakan sistem peringatan suara khusus untuk membantu meningkatkan kewaspadaan pejalan kaki.
9. Semua Kendaraan Listrik Sulit Diperbaiki
Teknologi kendaraan listrik memang berbeda dari kendaraan konvensional sehingga muncul anggapan bahwa kendaraan listrik akan selalu sulit diperbaiki.
Faktanya, kendaraan listrik dapat dirawat dan diperbaiki, tetapi membutuhkan teknisi dengan pengetahuan serta peralatan yang sesuai.
Beberapa masalah sederhana mungkin dapat ditangani melalui pemeriksaan rutin, sedangkan sistem tegangan tinggi dan komponen elektronik tertentu sebaiknya ditangani teknisi yang memiliki kompetensi khusus.
Karena itu, jaringan servis dan layanan purnajual merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan ketika membeli kendaraan listrik.
10. Kendaraan Listrik Lebih Murah dari Kendaraan Bensin
Biaya operasional yang berpotensi lebih rendah sering membuat kendaraan listrik dianggap pasti lebih murah secara keseluruhan.
Faktanya, biaya kepemilikan kendaraan listrik perlu dihitung secara menyeluruh.
Selain harga pembelian, pengguna perlu mempertimbangkan biaya listrik, perawatan, asuransi, pajak, pemasangan perangkat pengisian jika diperlukan, serta nilai jual kembali.
Dalam kondisi penggunaan tertentu, kendaraan listrik dapat memberikan penghematan biaya operasional. Namun, hasilnya dapat berbeda untuk setiap pengguna.
Apakah Kendaraan Listrik Cocok untuk Semua Orang?
Kendaraan listrik dapat menjadi pilihan menarik, tetapi belum tentu cocok untuk semua pengguna. Kesesuaiannya sangat dipengaruhi pola perjalanan dan akses terhadap fasilitas pengisian.
Pengguna yang sering melakukan perjalanan dalam kota dan memiliki akses pengisian di rumah atau tempat kerja mungkin dapat merasakan manfaat kendaraan listrik secara lebih optimal.
Sementara itu, pengguna yang sering melakukan perjalanan jauh ke wilayah dengan fasilitas pengisian terbatas perlu mempertimbangkan aspek perencanaan perjalanan dengan lebih serius.
Kesimpulan
Berbagai mitos dan fakta seputar kendaraan listrik menunjukkan bahwa tidak semua anggapan yang beredar sesuai dengan kondisi sebenarnya. Kendaraan listrik dirancang untuk digunakan dalam berbagai kondisi, termasuk saat hujan, memiliki sistem baterai yang dapat digunakan dalam jangka panjang, serta tetap membutuhkan perawatan secara berkala.
Kendaraan listrik juga dapat digunakan untuk perjalanan jauh selama pengguna merencanakan rute dan memperhatikan fasilitas pengisian daya. Dari sisi lingkungan, kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung, tetapi dampak lingkungannya tetap dipengaruhi oleh proses produksi dan sumber energi yang digunakan.
Pada akhirnya, kendaraan listrik bukan sekadar tren, tetapi merupakan salah satu perkembangan teknologi dalam industri otomotif. Dengan memahami fakta di balik berbagai anggapan yang beredar, calon pengguna dapat menentukan pilihan kendaraan secara lebih rasional dan sesuai dengan kebutuhan.

